info polisi

Juli 21, 2024 10:37 pm

Pasifik: Menyulam Laut Merah Putih Yang Robek di Wajah Dunia Baru

Oleh: M.Tahir Wailissa (Ketua Bidang Otonomi Daerah dan Pemberdayaan Desa PB HMI)

 

INFOPOLISI.NET | JAKARTA

 

“God mage Timor for sandalwood and Banda for mace and the Moluccas for cloves, and that this merchandise is not known anywhere else in the world except in these places, Thome Pires (1468-1540), “He who controls the spice controls the universe, Frank Herbert”

 

Abad 16-18 Masehi, cengkeh (cloves), Pala (nutmeg) dan lada Maluku disebut sebagai “the holi teinity of spices” yang melahirkan tata ekonomi dunia (the birth of global economy), ketiga komoditi dunia ini sangat langka dan mahal bahkan melampaui harga emas sehingga menjadi suatu nilai tukar global (a farm of global currency) di pasar Asia, Timur Tengah hingga Eropa. Zona kepulauan Maluku disebut sebagai “the island of imagination” Selama 200 tahun, abad 16-18 Mashi, zona Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritime dunia, inovasi dan revolusi system keuangan dan koorporasi global pertama kali di dunia. Kota Amsterdam (Belanda) awal abad 17 merupakan pusat keuangan modern pertama kali di dunia. Kota ini menyediakan perdagangan rempah Maluku dan Wisselbank, Pasar Saham Amsterdam (Amsterdam Beurs / Beurs van Hendrick de Keyser), Korenbeurs (Pasar Komoditi), asuransi skala besar, Brokerage dan perusahaan-perusahaan dagang lintas lintas Negara yang dikenal diberbagai pasar dunia hingga hari ini (Maluku”Staging Poin” RI Abad 21).

 

Maritim Indonesia, Jalan Kesejahteraan Yang Tertunda

 

Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelago state) terbesar di duni yang memiliki peran strategis dalam lalu lintas perdagangan dunia, diperkirakan 44 persen lalu lintas laut global dan 95 persen dari kapal di wilayah Asia Pasifik melintasi perairan Indonesia. Dimana total wilayah perairan Indonesia seluas 6,4 juta kilometer persegi dengan garis pantai sepanjang 81 kilomter persegi yang merupakan garis pantai produktif terpanjang kedua di dunia.

 

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki luas perairan, laut territorial dan perairan pedalaman. Kurang lebih 2,7 juta kilometer persegi atau sekitar 70 persen dari luas wilayah Negara Republik Indonesia (NRI). Dengan tambahan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) seluas 3,1 juta kilometer persegi, dengan total wilayah laut yuridiksi nasional Indonesia menjadi 5,8 juta kilometer persegi.

 

Kawasan Asia Pasifik khususnya kawasan Asia Pasifik Barat penting untuk dirumuskan suatu jalan untuk memastikan adanya jaminan keamanan kawasan, mengingat laut Indonesia memiliki peran penting selain cadangan sumber daya alam (SDA), laut juga dapat dimaknai sebagai media pemersatu bangsa, penghubung, pertahanan dan keamanan serta media untuk membangun pengaruh dalam menopang kepentingan nasional.

 

Permasalahan batas-batas laut nasional yang memiliki poensi SDA seperti pada kasus Sipadan dan Ligitan, Celah Timur Laut Ambalat, Laut China Selatan dan lainnya mestinya dicermati secara serius bagi kepentingan nasional. sebab sewaktu-waktu dapat memicu ketegangan dan konflik antar negara. Selain itu, berbagai aktifitas transnasional kerap terjadi di wilayah laut ini sebut saja illegal fishing, penyelundupan barang, penyelundupan narkoba, human trafficking, boat people dan terorisme sehingga penting bagi pemangku kebijakan untuk meningkatkan security maritim.

 

Indonesia sendiri menyiapkan tiga lorong laut yang dikenal sebagai Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) Yakni, ALKI I adalah Selat Sunda, ALKI II Selat Lombok, dan ALKI III adalah Selat Ombai-Wetar. Dengan posisi yang sangat strategis pada jalur perdagangan dan transportasi laut, tantangan negara kepulauan dari aspek pertahanan dan keamanan seringkali menemui berbagai macam tantangan terutama menyangkut batas-batas yuridiksional terutama di titik-titik yang memiliki potensi strategis.

 

Indonesia, Tantangan Ekonomi Kawasan di Wajah Dunia Baru

 

Samuel Huntington menyatakan politik dunia telah memasuki fase baru yang mana persaingan tidak lagi terjadi antara bangsa-negara maupun empires. Sebaliknya, persaingan maupun perang dihasilkan dari benturan peradaban. Sumber konflik tidak lagi memperebutkan wilayah maupun sumber daya alam, tetapi sumber konflik terletak pada persinggungan peradaban di daerah (fault lines). Francis Fukuyama mengingatkan kita telah mencapai “Akhir Sejarah”. Tidak ada yang bisa digali lebih jauh dari kebenaran. Konfrontasi idiologis yang menyakitkan akibat bentrokan isme-isme telah berakhir. Semakin banyak jumlah masyrakat dari semakin banyak belahan dunia dari sebelumnya yang secara agresif ingin berpartisipasi dalam sejarah.

 

Selama berabad-abad, bahkan beribu-ribu tahun, mereka telah meninggalkan dibelakang mereka kebingungan dihutan rimba, gurun, dan isolasi di daerah pedesaan untuk menghindar dari komunitas dunia dan dari ekonomi global yang mengikatnya bersama sebuah kehidupan yang beradab bagi diri mereka sendiri dan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Suatu generasi yang lalu, bahkan satu decade lalu, sebagian besar dari mereka sama tak bersuaranya dan sama tak tampaknya seperti adanya mereka sejak dulu. Ini tidak benar lagi: mereka telah memasuki tuntutan-tuntutan ekonomi yang harus dipenuhi.

 

Pasar modal di sebagian besar Negara maju adalah adalah sama dengan kelebihan dana untuk investasi. Jepang misalnya, memiliki akivalen 10 trilyun dollar AS yang disimpan. Bahkan jika sebuah Negara mendekati kebangkrutan, seringkali masih ada akumulasi uang dalam jumlah sangat besar dalam bentuk dana pensiun dan program asuransi kehidupan. Masalahnya adalah bahwa kesempatan – kesempatan investasi yang menjanjikan dan sangat sesuai seringkali tidak ditemukan pada wilayah yang sama dimana dana ini ada. Karena itulah, pasar-pasar modal dikembangkan sebagai sebuah varietas mekanisme yang luas untuk memindahkan trilyunan dana simpanan itu melampui batas-batas nasional. investasi itu dapat kita temukan di negara-negara Asia. Investasi tidak lagi dapat dibatasi secara geografis, kini, diamanpun anda tinggal di dunia kesempatan itu ada, sangat menarik dan uang akan terus masuk. Puluhan tahun lalu, aliran dana lintas-batas antar Negara terutama hanya dari pemerintah ke pemerintah atau dari agen peminjaman multirateral ke pemerintah. Kini, hal itu tidak lagi terjadi, karena sebagian besar dana yang sekarang bergerak melampaui batas-batas negara adalah milik pribadi. Pemerintah tidak lagi harus terlibat dalam setiap akhir transaksi. Yang menjadi persoalan adalah kualitas dari kesempatan yang baik sebab dana akan bergerak kemana ada kesempatan yang baik.

 

Industry juga jauh lebih global dalam orientasi sekarang ketimbang orientasinya satu dasawarsa yang lalu. Pada masa lalu, kepentingan dari pemerintahan jelas menjadi persoalan, perusahaan harus melakukan banyak kesepakatan-kesepakatan dengan banyak pemerintah untuk memasarkan berbagai sumber daya dan keterampilan untuk ditukarkan agar bisa memperoleh akses istimewa ke pasar-pasar lokal. Ini juga telah berubah. Strategi-strategi berbagai perusahaan multinasional modern tidak lagi dibentuk dan dikondisikan oleh alasan-alasan bangsa. Tetapi lebih oleh hasrat dan kebutuhan untuk melayani pasar-pasar yang atraktif dimanapun mereka berada dan untuk mengurus sumber daya dimanapun adanya. Subsidi-subsidi yang dibiyai pemerintah, pajak gaya lama suda hancur ditempat ini atau itu tidak lagi relevan sebagai suatu kriteria keputusan. Perusahaan-perusahaan barat sekarang terus bergerak memasuki wilayah china dan India sebagaimana adanya karena itulah tempat dimana masa depan mereka berada.

 

Gerakan industry dan investasi telah lama dipasilitasi oleh tekhnologi informasi. Hingga kini memungkinkan sebuah perusahaan untuk beroperasi diberbagai belahan dunia tanpa harus harus membangun seluruh system bisnis ditiap-tiap Negara diamana ia memiliki perwakilan. Para perancang produk di Oregon bisa mengontrol berbagai aktivitas sebuah jaringan perusahaan diseluruh wilayah Asia-Pasifik. Kendala-kendala untuk berpartisipasi lintas batas aliansi strategis menjadi sangat menurun. Para tenaga ahli tidak harus ditransfer; tenaga kerja tidak harus dilatih. Kapabilitas terdapat pada jaringan itu dan dapat diperoleh kapanpun secara virtual dimanapun sesuai dengan yang dibutuhkan.

 

Berdasarkan arus perubahan ini, sebagai sebuah negara Indonesia harus mampu mereposisi diri melalui system yang tepat. Sebab akses informasi diseluruh belahan dunia tidak lagi dikondisikan oleh larangan – larangan pemerintah. Kualifikasi-kualifikasi yang dibutuhkan untuk duduk dimeja global dan memberikan solusi-solusi global harus mulai dihubungkan bukan dengan batas-batas politik artifisial negara, tetapi dengan unit-unit geografik yang lebih terfokus. Kami memahaminya sebagai negara kawasan (region state). Yang menentukan mereka bukanlah lokasi dari batas-batas politis mereka., tetapi fakta bahwa bahwa mereka merupakan ukuran dan skala yang tepat yang benar-benar ada dan menjadi unit-unit bisnis dalam kancah ekonomi global. Pasar mereka adalah batas dan hubungan yang menjadi persoalan di sebuah dunia tanpa batas. (Red)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Solverwp- WordPress Theme and Plugin