Foto/Dok: Pimpinan Pondok Pesantren Al-Turmudzi, KH. Muhtarul Anam (Gus Anam bersama Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Riau, KH. R. Abdul Khalim Mahali Ziarah ke makam Ulama Besar Sayyid Qomar Bin Abdullah
INFOPOLISI.NET | RIAU — Upaya memperkuat ukhuwah ulama dan membangun kolaborasi strategis dalam bidang dakwah, pendidikan, serta pemberdayaan umat terus dilakukan.
Salah satunya melalui kunjungan silaturahmi yang dilakukan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Turmudzi, KH. Muhtarul Anam, kepada Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Riau, KH. R. Abdul Khalim Mahali.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan antarulama sekaligus memperkuat sinergi kelembagaan. Kedua tokoh sepakat bahwa pesantren dan organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan sosial keagamaan di era modern.
Menurut Gus Anam, silaturahmi ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan para ulama terdahulu.

“Silaturahmi ini bukan sekadar pertemuan, tetapi bagian dari upaya merawat tradisi ulama. Kita harus menjaga sanad keilmuan agar tetap hidup dan relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya kepada awak media melalui pesan WhatsApp, Jumat (10/4/2026).
Dalam rangkaian kunjungannya, Gus Anam juga melakukan ziarah ke makam ulama kharismatik KH Khumaidi Sholeh. Sosok yang dikenal dengan julukan “Kiai Tiban” ini merupakan figur penting dalam sejarah perkembangan keilmuan Islam di Indonesia.
KH Khumaidi Sholeh (1900–1961), yang memiliki nama kecil Parmin, dikenal sebagai ulama asal Tingkir, Salatiga, yang memiliki kedalaman ilmu serta sikap rendah hati. Sepanjang hidupnya, ia menulis sedikitnya 21 kitab dalam berbagai disiplin keislaman dan bahkan pernah berkiprah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Kontribusinya dinilai sangat berpengaruh dalam membangun tradisi keilmuan Islam, khususnya di wilayah Jawa Tengah.
Ziarah tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan, tetapi juga momentum refleksi spiritual guna meneladani perjuangan ulama dalam menyebarkan ilmu dan nilai-nilai Islam.
Tak hanya itu, Gus Anam juga melanjutkan perjalanan spiritualnya dengan berziarah ke Selat Panjang, mengunjungi makam Sayyid Komar, yang dikenal sebagai salah satu ulama berpengaruh pada masanya.
Kegiatan ini sekaligus memperkaya nilai historis dalam menelusuri jejak perjuangan ulama di berbagai daerah.
Sementara itu, KH Abdul Khalim Mahali yang juga merupakan cucu dari KH Khumaidi Sholeh menegaskan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dalam membangun kekuatan umat di tengah dinamika zaman.
“Kita perlu menguatkan sinergi antara pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam menghadirkan pendidikan yang adaptif serta ekonomi umat yang mandiri. Spirit perjuangan para ulama terdahulu harus kita lanjutkan dengan kerja nyata,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam masa khidmat 2024–2026, PWNU Riau akan memfokuskan program pada pengembangan pendidikan, penguatan ekonomi umat, serta memperjuangkan aspirasi daerah. Salah satu wacana strategis yang turut menjadi perhatian adalah terkait penguatan posisi daerah, termasuk gagasan Daerah Istimewa Riau.
Kegiatan silaturahmi ini menegaskan bahwa jejaring ulama masih memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat nilai keagamaan, serta memberikan arah edukatif bagi masyarakat.
Keteladanan tokoh seperti KH Khumaidi Sholeh diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi masa kini untuk melanjutkan perjuangan dengan integritas, keilmuan, dan dedikasi tinggi. (Mustopa)




