INFOPOLISI.NET | TTS, Nusa Tenggara Timur – Kegagalan tak selalu menjadi akhir dari sebuah perjuangan. Hal itu tercermin dari sosok Apris Bertolomeos Lakapau, seorang pemuda asal Desa Sunu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tetap teguh memegang tekad meski belum berhasil lolos seleksi penerimaan TNI Angkatan Darat tahun 2025.
Apris, pemuda kelahiran Kiu Tuif pada 15 April 2005, diketahui mengikuti seleksi penerimaan Tamtama PK TNI AD Gelombang III Tahun 2025 melalui SUBPANPUS Kodam IX/Udayana di Singaraja, Bali. Namun, langkahnya harus terhenti pada tahapan seleksi PANPUS karena adanya persyaratan yang belum dapat dipenuhi.

Saat ditemui awak media di kediamannya, Apris tampak didampingi kedua orangtuanya. Meski belum berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi prajurit TNI, raut wajah Apris menunjukkan ketegaran. Dengan senyum sederhana, ia mengaku menerima hasil seleksi tersebut dengan lapang dada. Selasa (14/1/2026)
“Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Saya tidak akan putus asa dan siap mencoba lagi,” ujar Apris kepada awak media.
Apris menegaskan dirinya tetap berkomitmen untuk kembali mengikuti seleksi pada tahun 2026 mendatang, apabila kembali dibuka penerimaan calon anggota TNI AD. Ia berharap masih diberikan kesempatan dan kesehatan untuk mempersiapkan diri secara lebih matang.

“Kalau ada pembukaan lagi tahun depan, saya siap maju lagi. Semoga Tuhan memberikan peluang,” tambahnya.
Lahir dan tumbuh dari keluarga sederhana, Apris merupakan anak dari pasangan Stefanus Lakapau dan Jemi Mone, yang sehari-hari berprofesi sebagai petani. Keterbatasan ekonomi tak menjadi penghalang bagi keluarga ini untuk menanamkan nilai kejujuran dan kerja keras kepada anaknya.
Orangtua Apris juga menegaskan bahwa dalam proses seleksi tersebut, mereka sama sekali tidak menggunakan jasa pihak ketiga atau jalur tidak resmi.
“Kami tidak pernah memakai cara curang atau perantara apa pun. Kalau seperti itu, artinya bermain tidak jujur,” tegas Apris, mengutip prinsip yang selalu dipegang keluarganya.
Dengan segala keterbatasan yang ada, keluarga Apris mengaku hanya bisa berdoa dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka berharap setiap pemimpin dan pihak yang berwenang dalam proses seleksi TNI AD dapat bertindak adil, objektif, dan profesional sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar menyentuh hati para pemimpin TNI AD yang memiliki kewenangan menentukan kelulusan,” pungkas Apris.
Kisah Apris menjadi gambaran nyata semangat generasi muda dari pelosok daerah yang tetap menjunjung nilai kejujuran, pantang menyerah, dan nasionalisme, meski harus berhadapan dengan kenyataan pahit dalam meraih cita-cita. (Aminadab)




