INFOPOLISI.NET | BANDUNG – Suasana penuh semangat dan kreativitas menyelimuti hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 33 Kota Bandung pada Jumat, 17 Juni 2025. Dengan mengusung tema “NYENI DI SAKOLA – Jaga Riksa Budaya”, kegiatan ini menjadi panggung unjuk bakat para siswa dalam bidang seni dan budaya Sunda.

Berbagai penampilan memukau seperti karawitan, tari kreasi Sunda, jaipongan, pencak silat, pupuh, vokal grup, bobodoran, hingga seni Reak turut mewarnai acara penutupan MPLS yang berlangsung meriah di lingkungan sekolah.
Kegiatan diawali dengan pembacaan doa oleh Wakasek Humas Maman Rohman, S.Pd. dengan suasana penuh hikmah.

Dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala SMPN 33 Bandung, Ali Imron, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menumbuhkan kreativitas siswa sebagai bagian dari kecerdasan abad 21.
“Program ini sejalan dengan harapan Dinas Pendidikan dan Pemerintah Kota Bandung melalui Disbudpar, yang ingin menggali dan mengembangkan kecerdasan emosional serta kreativitas siswa melalui seni dan budaya,” ujar Ali Imron.

Hal senada disampaikan oleh Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Bandung, Saipul Kurniawan, M.Pd., yang menyebut kegiatan “Nyeni di Sakola” sebagai langkah konkret dalam pelestarian budaya Sunda sekaligus menggali potensi kesenian yang dimiliki peserta didik.
Dukungan juga datang dari Anggota DPRD Kota Bandung, Soni Daniswara, S.E anggota DPRD Komisi 4 yang menyoroti pentingnya peran lingkungan dan sekolah sebagai saluran bakat siswa.
“Semua anak punya bakat, tapi tidak semua mendapatkan saluran yang tepat. Maka dari itu, sekolah harus menjadi tempat untuk menyalurkan potensi ini agar menjadi aset berharga bagi Kota Bandung ke depannya,” katanya.

Program ini merupakan inisiatif kolaboratif antara Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung. Kepala Bidang Produk Budaya dan Kesenian Disbudpar, Ratna Rahayu Pitriyati, mengatakan bahwa “NYENI DI SAKOLA” bertujuan membentuk karakter dan jati diri siswa melalui pelestarian budaya.
“Dengan budaya, anak-anak akan belajar menghargai, bersaing secara sehat, dan menjadi teladan di lingkungannya. Ini penting sebagai bagian dari pendidikan karakter,” jelas Ratna.
Tak hanya menampilkan seni tradisional, acara juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengenal kembali permainan tradisional seperti Sapintrong, Oray-orayan, dan Perepet Jengkol, di tengah dominasi permainan digital seperti Mobile Legends.
Melalui acara ini, SMPN 33 Bandung membuktikan bahwa pelestarian budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan pengembangan karakter dan kreativitas siswa. Semangat “NYENI DI SAKOLA” diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Kota Bandung. (Mustopa)




