INFOPOLISI.NET | BANDUNG – Duka mendalam menyelimuti Kelurahan Gumuruh, Kota Bandung. Asnah Binti Mista, sosok sepuh yang menjadi salah satu saksi hidup perjalanan sejarah bangsa, berpulang di usia lanjut di kediamannya di Jl. Babakan Jati RT 05/07.
Menurut penuturan keluarga, usianya diperkirakan kurang lebih 120 tahun. Sepanjang hidupnya, beliau meninggalkan jejak pengabdian yang sulit dilupakan, baik bagi keluarga, masyarakat, maupun bangsa Indonesia.
Saksi Hidup Bung Karno dan Ibu Inggit Ganarsih
Semasa hidupnya, Ibu Asnah dikenal dekat dengan Ibu Inggit Ganarsih, istri Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Kedekatan itu terjalin karena rumah mereka berdampingan di kawasan Cikawao, Bandung. Tak hanya itu, almarhumah juga tercatat sebagai veteran wanita Siliwangi yang pernah mengabdikan diri sebagai juru masak di Seskoad serta menjadi saksi akan pembangunan lembaga militer strategis tersebut.
Dari penuturan keluarga, almarhumah kenal dengan Bung Karno sejak usia 16 tahun, sementara Bung Karno kala itu berusia antar 20 hingga 25 tahun. Interaksi yang terjalin membuatnya menjadi saksi sejarah penting akan perjalanan Bung Karno bersama Ibu Inggit Ganarsih.
Jejak Pengabdian dan Warisan
Almarhumah meninggalkan 13 orang anak, terdiri dari 5 putra dan 8 putri. Sebagian besar menempuh pendidikan di berbagai pesantren ternama, seperti Gontor, Al-Amin Madura, dan Al-Basyariah Cigondewah dan lainnya. Sementara suaminya yang telah lebih dahulu wafat dikenal sebagai veteran sekaligus ajudan Bung Karno ketika bertugas di Sesko AD.
Tak hanya itu, Ibu Asnah juga dikenal berperan dalam pembangunan dua masjid di kawasan Gumuruh—warisan yang hingga kini menjadi tempat ibadah dan pusat kegiatan masyarakat.
Tak hanya itu, menurut keluarga, almarhumah pernah dekat dengan Ratu Hermina dari Belanda, menandakan luasnya jejaring dan peran yang beliau jalani di masa hidupnya.
Teladan Sederhana yang Membekas
Di mata keluarga, sosok almarhumah adalah teladan ketulusan. Sosoknya dikenal sederhana, ramah, dan nyaris tak pernah menunjukkan amarah. Kehadirannya menjadi cahaya yang meneduhkan, bukan hanya bagi anak-anak dan cucunya, tetapi juga bagi lingkungan sekitar.
Kepergian Asnah Binti Mista bukan sekadar kehilangan seorang ibu dan nenek bagi keluarga besar, melainkan juga kehilangan seorang saksi sejarah bangsa. Ia adalah bagian dari generasi yang bersentuhan langsung dengan lahirnya Republik Indonesia dan perjalanan Bung Karno bersama Ibu Inggit Ganarsih.
“Selamat jalan Ibu Asnah, jasa dan keteladananmu akan selalu dikenang” (Red)









