INFOPOLISINET I MATARAM – Forum Komunikasi Alumni Kedokteran Nusa Tenggara Barat (FKAK NTB) menyoroti masih sering terjadinya ketegangan antara pasien dan tenaga kesehatan (nakes) di instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit. Kondisi ini dinilai bukan semata-mata kesalahan petugas medis, melainkan dampak dari kurangnya pemahaman masyarakat terhadap aturan dan sistem pelayanan kesehatan.
Perwakilan FKAK NTB, Hafiz, mengungkapkan bahwa di lapangan, tenaga kesehatan kerap berada pada posisi sulit. Di satu sisi mereka dituntut memberikan pelayanan maksimal, namun di sisi lain harus tetap menjalankan regulasi yang berlaku.
“Di sinilah sering muncul ketegangan antara pasien dan nakes. Padahal petugas hanya menjalankan aturan yang sudah ditetapkan,” ujarnya.
Menurut Hafiz, banyak konflik di IGD terjadi karena perbedaan persepsi antara masyarakat dan tenaga kesehatan, terutama terkait skala prioritas pasien, prosedur administrasi, serta keterbatasan fasilitas rumah sakit. Ketika aturan diterapkan secara kaku tanpa pemahaman yang memadai dari publik, potensi gesekan menjadi semakin besar.
Menyikapi hal tersebut, FKAK NTB mendorong pemerintah daerah dan otoritas kesehatan untuk lebih aktif melakukan literasi publik sebelum sebuah kebijakan diterapkan secara penuh di rumah sakit. Edukasi dinilai menjadi kunci penting untuk menjembatani kepentingan pasien dan tenaga medis.
“Ke depan, regulasi tidak boleh berdiri sendiri. Harus diikuti dengan edukasi yang masif kepada masyarakat. Kalau publik paham bagaimana sistem pelayanan berjalan, konflik di IGD bisa ditekan dan pelayanan kesehatan menjadi lebih optimal,” tegas Hafiz.
FKAK NTB menilai, literasi kesehatan yang baik tidak hanya melindungi tenaga medis dari tekanan dan kesalahpahaman, tetapi juga memberikan rasa aman dan keadilan bagi pasien. Dengan komunikasi yang jelas dan edukasi yang berkelanjutan, suasana pelayanan di rumah sakit diharapkan bisa menjadi lebih kondusif dan humanis. (Muda_Nas)




