INFOPOLISI.NET | BANDUNG — Semangat pelestarian budaya dan penguatan jati diri bangsa terasa begitu kuat dalam acara “Peuting Munggaran” Hari Jadi Tatar Sunda yang digelar di halaman Gedung Sate, Minggu (17/5/2026) malam. Dalam suasana penuh khidmat dan nuansa budaya Sunda yang kental, Dedi Mulyadi menyampaikan pesan mendalam mengenai makna Kasundaan sebagai kekuatan ideologis yang relevan bagi masa depan bangsa.
Dalam pidatonya di hadapan ribuan masyarakat, tokoh budaya, seniman, serta sejumlah tokoh nasional dan Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Sunda bukan hanya sekadar identitas etnis atau romantisme sejarah masa lalu. Menurutnya, nilai-nilai Kasundaan merupakan fondasi peradaban yang telah memberikan kontribusi besar terhadap pengetahuan, budaya, dan sejarah kemanusiaan.
“Kasundaan bukan sekadar etnis atau kenangan masa lalu. Sunda adalah watak ideologis yang memberi kontribusi bagi pengetahuan, peradaban, dan sejarah kemanusiaan,” tegas Dedi Mulyadi disambut tepuk tangan para hadirin.
Ia menilai, di tengah perkembangan zaman yang semakin modern dan dinamis, masyarakat Sunda harus mampu mempertahankan nilai-nilai luhur budaya sebagai pijakan moral dalam kehidupan sosial, politik, maupun pembangunan daerah. Menurutnya, budaya Sunda memiliki filosofi kehidupan yang sarat akan nilai kesederhanaan, gotong royong, tata krama, dan keseimbangan hidup.
Dedi juga menekankan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti hanya pada simbol-simbol seremoni atau kegiatan seremonial belaka. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan nilai-nilai Sunda sebagai energi masa depan yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Nilai-nilai Sunda harus menjadi energi masa depan. Bukan hanya simbol budaya atau seremoni nostalgia,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jawa Barat juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam. Ia menyebut filosofi Sunda mengajarkan bahwa manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semesta.
“Karena dalam filosofi Sunda, manusia dan semesta merupakan satu kesatuan,” ucapnya.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi lingkungan saat ini, di mana berbagai persoalan kerusakan alam, perubahan iklim, hingga krisis ekologis menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama. Dedi mengajak masyarakat Jawa Barat untuk kembali menghidupkan budaya yang menghormati alam sebagai warisan leluhur.
Acara “Peuting Munggaran” sendiri berlangsung meriah dan penuh nuansa budaya. Berbagai pertunjukan seni tradisional hingga drama musikal kolosal ditampilkan untuk mengangkat sejarah serta nilai-nilai luhur Tatar Sunda.
Penampilan para seniman tanah air turut memukau masyarakat yang memadati area halaman Gedung Sate sejak sore hari.
Selain menjadi momentum peringatan Hari Jadi Tatar Sunda, kegiatan tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk kembali memperkuat identitas budaya di tengah arus globalisasi. Kehadiran para tokoh masyarakat, budayawan, akademisi, dan pejabat daerah menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga dan merawat warisan budaya Sunda agar tetap hidup dan berkembang lintas generasi.
Dengan semangat Kasundaan yang diusung dalam acara tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap budaya Sunda tidak hanya dikenal sebagai warisan lokal, melainkan mampu menjadi inspirasi nilai kehidupan yang universal bagi Indonesia dan dunia. (Boni Hendriana)




