INFOPOLISI.NET | BEKASI – Puskesmas Lemah Abang menggelar sosialisasi intensif mengenai pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Karangsari, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Langkah ini diambil sebagai respons cepat setelah adanya keluhan warga terkait banyaknya nyamuk di lingkungan mereka, serta adanya satu laporan kasus positif DBD di wilayah tersebut.
Hasil Survei Jentik Menunjukkan Kerawanan
Sebelum sosialisasi, petugas kesehatan telah melakukan survei sampel jentik ke sejumlah rumah warga yang terdampak pada minggu lalu. Hasilnya, petugas menemukan banyak jentik nyamuk yang berkembang biak di area rumah pribadi warga.
Pihak Puskesmas menegaskan bahwa Desa Karangsari masuk dalam kategori wilayah rawan DBD karena kasus ini selalu muncul setiap tahun.
Ubah Pola Pikir: Fogging Bukan Solusi Utama
Dalam edukasi tersebut, petugas Puskesmas Lemah Abang meluruskan pemahaman masyarakat yang menganggap pengasapan (fogging) adalah obat segalanya untuk membasmi nyamuk.

Fogging Hanya Membunuh Nyamuk Dewasa: Metode ini tidak bisa membunuh jentik nyamuk yang tersembunyi.
Syarat Fogging Efektif: Harus didahului dengan pembersihan jentik secara massal dan dilakukan dalam dua siklus (berjarak dua minggu) untuk memutus siklus hidup nyamuk baru.
Fokus Utama: Masyarakat diminta memutus pola pikir “DBD pasti fogging” dan beralih ke gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Tekankan Gerakan 3M+ dan Kenali Jenis Nyamuk
Puskesmas mengimbau warga untuk mandiri dan rutin melakukan gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang barang bekas, plus mencegah gigitan nyamuk). Langkah penanganan DBD ditekankan melalui tiga tahapan utama secara berurutan: pemantauan jentik berkala, sosialisasi edukasi, dan terakhir adalah fogging sebagai opsi paling akhir.
Petugas juga mengingatkan warga untuk membedakan antara nyamuk kebun biasa dengan nyamuk pembawa virus DBD, yaitu Aedes aegypti, yang biasanya berkembang biak di dalam rumah.
Alur Laporan Kasus DBD
Puskesmas meminta warga segera melaporkan hasil laboratorium jika ada anggota keluarga yang terindikasi terkena DBD. Jika hasil lab terbukti positif, tim medis akan langsung turun ke lapangan untuk melakukan survei faktor risiko lingkungan, memantau jentik, serta memberikan edukasi langsung di lokasi terdampak.
Kegiatan sosialisasi ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Karangsari, Bao Umbara, bersama jajaran perangkat desa dan warga setempat yang berkomitmen untuk menjaga kebersihan lingkungan bersama.(DG)




